Usaha manusia untuk merekam lingkungan dengan
media gua, sudah dimulai digunakan sejak 35 ribu tahun silam oleh para seniman,
sebaliknya usaha dokumentasi lingkungan bawah tanah dalam bentuk gambar, baru
dilakukan pada tahun 1320 sebelum masehi.
Sekarang ini penyelusuran gua sudah merambah keberbagai
belahan dunia, tidak terkecuali di Negeri Serambi Mekkah ini, secara geografis
sepanjang pantai Barat dan juga selatan Provinsi Aceh satukesatuan merupakan
kawasan krast batu gamping, termasuk di antaranya Aceh Besar dan Aceh Jaya dan
juga kawasan-kawasan lainnya di Aceh. Banyak yang sudah dilakukan oleh kelompok
organisasi pencinta Alam di Aceh yang turut melestarikan kawanan krast yang
mengandung banyak potensi alam tidak terkecuali gua-gua.
Darwis putra kelahiran Sigli ini, sekitar
tiga tahun yang lalu ia mendapat gelar Instruktur di dunia penyelusuran gua, pada
pelatihan Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia di
Yogyakarta, ia membawa lebih kurang 11 anggota muda Mapala Leuser Unsyiah untuk
diberi pelatihan di gua di Desa Paroy, Kecamatan Lhong, Kabupaten Aceh Besar.
Kata Darwis di Desa Paroy terdapat banya
gua-gua yang menarik untuk ditelusuri, selain ornament-ornamentnya yang
menarik, juga guanya pun dapat di akses dengan muda, dari Banda Aceh menuju
lokasi sekitar 2 jam perjalanan yang dapat di tempuh dengan menggunakan
kendaraan mini bus (L300) sejenisnya, gua yang direncanakan untuk media belajar
anak-anak kata Darwis sekitar tiga gua, yang masing-masing gua Urong, Baja, dan
gua Raya, dari ketiga gua dengan yang paling panjang gua Urung sekitar 1 km
dengan varisai ke tiga gua berbentuk vertical dan horizontal, dilokasi juga
terdapat sumebr air yang mudah untuk di jangkau tak jauh dari gua Urung.
Kebanyakan gua dikawawan Paroy terdapat
gua-gua fosil. Namun, ada beberapa titik gua di kawsan karst ini gua pados (gua berair),
memang gua berair sedikit sulit dibandingkan dengan gua fosil, sebab selain
peralatannya banya juga dibutuhkan skill lainnya seperti alat selam, sementara gua batu gamping (karst) merupakan fenomena bentukan gua terbesar seluruh
dunia ada sekitar 70 persen gua karst termasuk di Provinsi Aceh, ”katanya
Darwis menegaskan
tujuan yang akan ia berikan kepada anggota Mapala Leuser yang di latih, untuk
menamba wawasan serta bisa memetakan gua untuk sebagai sumber informasi bagi
yang membutuhkan, serta bisa mendiskripsikan dan mendokumentasikan keadaan
struktur gua.
Salah satunya dari sekian banyaknya gua di
Aceh juga dimanfaatkan sebagai lokasi ekowisata seperti di Gua tujuh yang
sering di sebut penduduk setempat. Letaknya tak jauh-jauh dari Kota Sigli. Kawasan
ini sudah banyak juga di kunjungi para wisatawan baik lokal maupun manca negara.
Di sini wisatawan bisa menikmati ornament-ornament gua serta keindahan perut
bumi lainnya, taka hanya di Sigli obyek wisata gua sudah ada di Aceh Tengah, keanekaragaman
biota gua hayatinya. Selain itu, Anda juga bisa menjadi wali sebagai penjaga
pelestarian alam sekiranya.[]
1 komentar:
Mudahan gua nya terus terjaga ekosistemnya..
Posting Komentar