Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

JEJAKER Adventure

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan | Al Qur'an surat Al-Mulk ayat 15

  • L346US
  • Punggungan
  • DIKSAR24
  • Rope
  • Teras
  • Lensa
  • Tali Jejak
  • Sains
  • Sport
  • Mesting
  • Tebaster
  • Binatang Liar
  • Video
  • Download
  • Peta
  • Pintu Angin
  • Telur Kuncup
  • Webmail
  • facebook
  • Twitter
  • Camp
  • Myspace
  • Friendster
  • RSS Feed
  • Archieve
skip to main | skip to sidebar
Tampilkan postingan dengan label Travel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travel. Tampilkan semua postingan

Mengenang Sejarah Kampung Halaman Nun Jauh Disana

Written By IKLILUDIN Aras on Selasa, 22 April 2014 | 07.18

AWAL KATANYA Tunggu Tubang: Tim Pelacakan Sejarah ini dibentuk oleh Panitia Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu pada bulan Agustus 2007 lalu. Tugasnya adalah menemukan fakta apakah benar pada abad ke 17 masehi telah berkumpul para ’ulama di Sumatera Selatan untuk bermudzakarah? Sejumlah pertanyaan penting yang harus dijawab antara lain : apa latar belakangnya mudzakarah tersebut; siapa saja tokohnya; dimana lokasinya; dan apa isi mudzakarah tersebut; hasil-hasilnya; serta pengaruhnya terhadap ummat Islam khususnya di Rumpun Melayu?

Untuk menjawab berbagai pertanyaan awal di atas, maka dalam tim ini dibentuk dua bidang tugas. Pertama, bertugas untuk menggali fakta dari literatur atau tulisan sejarah di buku, internet, serta asip-arsip kuno di perpustakan dan di masyarakat. Kedua, melalui wawancara langsung dengan pakar sejarah dari Perguruan Tinggi, Musium Purbakala, serta tokoh masyarakat yang merupakan keturunan dari pelaku sejarah. Juga dilakukan tinjauan langsung ke lokasi sejarah di daerah Perdipe. Tim ini bekerja sekitar dua bulan sejak dibentuk. Kemudian hasil penelitian ini telah disampaikan pada Musyawarah Pleno ke 1 DP3MU September 2007 lalu di Auditorium Yayasan AKUIS Pusat, Banyuasin, Sumatera Selatan.
 
Berdasarkan Hasil Pelacakan Sejarah yang telah dilakukan, maka ada beberapa bukti sejarah yang ditemukan :

Pada tahun 1650 masehi atau 1072 hijriyah telah bertemu sekitar 50 ’ulama di Perdipe, Sumatera Selatan.
 
Mereka berasal dari wilayah Rumpun Melayu yang meliputi Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaka, Fak-Fak- Papua, Ternate, dan Kepulauan Mindanau.
Hasil Mudzakarah ini memunculkan perluasan dakwah Islam yang berakibat terkikisnya 
faham anismisme dan budaya jahiliyah di masyarakat.

Munculnya kader-kader mujahid yang mengadakan perlawan terhadap penjajah Eropa.
Terjadinya perluasan wilayah Islam yang ditandai dengan munculnya Kesultanan yang baru yang masing-masing saling bekerjasama secara baik.
A. Siapakah Tokoh Sentral pada Mudzakarah ’Ulama Serumpun Melayu abad 17 M

Berdasarkan arsip kuno berupa kaghas (tulisan dengan huruf ulu diatas kulit kayu) yang ditemukan di Dusun Penghapau, Semende Darat, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan yang diterjemahkan pada tahun 1974 oleh Drs. Muhammad Nur (ahli purbakala Pusat Jakarta), ada beberapa catatan sejarah. Bahwa pada tahun 1072 Hijriyah atau 1650 Masehi telah ada seorang tokoh ’Ulama yang bernama Syech Nurqodim al-Baharudin yang bergelar Puyang Awak yang mendakwahkan Islam di daerah dataran Gunung Dempo Sumatera Selatan.

Menurut buku ”Jagad Basemah Libagh Semende Panjang”, Terbitan Pustaka Dzumirah, Karya Tgk. KH. Drs. Thoulun Abdurrauf, dinyatakan bahwa pada abad ke 14 – 17 Masehi, kaum Imperialis dan Kapitalis Eropa (Portugis, Inggris, dan Belanda) telah merompak di lautan dan merampok di daratan yang diistilahkan dalam bahasa melayu, yaitu mengayau. Mereka dengan taktik devide et impera berusaha memecah-belah penduduk di Rumpun Melayu yang berpusat di Pulau Jawa dan Semenanjung Malaka. Maka para waliullah di daerah tersebut dengan dipelopori oleh Syech Nurqodim al-Baharudin pada tahun 1650 M / 1072 H menggelar musyawarah yang berpusat di Perdipe (Sekarang masuk wilayah Kota Pagar Alam, Dataran Gunung Dempo, Sumatera Selatan). Tujuan musyawarah ini antara lain guna menyusun kekuatan bagi persiapan perang bulan sabit merah untuk menumpas ekspansi perang salib di Asia Tenggara.

Masih menurut beliau, bahwa kosa kata ”belanda” konon adalah sebutan bahasa melayu untuk orang netherlands. Kata belanda berasal dari dua suku kata ”belah” (memecah) dan ”nde” (keluarga), maknanya ”tukang memecah-belah keluarga”. Berbeda maknanya dengan kata ”semende” dari dua suku kata ”same” (satu) dan ”nde” (keluarga), maka maknanya ”satu keluarga” yaitu persaudaraan mukmin.

B. Siapakah Syech Nurqodim al-Baharudin

Syech Nurqodim al-Baharudin adalah cucu dari Sunan Gunung Jati dari Putri Sulungnya Panembahan Ratu Cirebon yang menikah dengan Ratu Agung Empu Eyang Dade Abang. Syech Nurqodim al-Baharudin kecil, beserta ketiga adiknya dididik dengan aqidah Islam dan akhlaqul karimah oleh orang tuanya di Istana Plang Kedidai yang terletak di tepi Tanjung Lematang.

Sewaktu remaja beliau digembleng oleh para ’ulama dari Aceh Darussalam yang sengaja didatangkan ayahnya. Ketika tiba masanya menikah beliau menyunting gadis dari Ma Siban (Muara Siban), sebuah dusun di kaki Gunung Dempo yang memiliki situs Lempeng Batu berukir Hulu Balang menunggang Kuda dengan membawa bendera Merah Putih (lihat buku ”5000 tahun umur merah putih” karya Mister Muhammad Yamin). Setelah bermufakat, beliau sekeluarga beserta adik-adiknya, keluarga dan sahabatnya membuka tanah di Talang Tumutan Tujuh, sebagai wilayah yang direncanakan beliau untuk menjadi Pusat Daerah Semende.

Menurut salah seorang keturunan beliau yang masih ada sekarang-TSH Kornawi Yacob Oemar-, dalam sebuah makalahnya dinyatakan bahwa, Syech Baharudin adalah pencipta adat Semende. Sebuah adat yang mentransformasi perilaku rumahtangga Nabi Muhammad SAW. Beliau juga pencetus falsafah ”jagad besemah libagh semende panjang”, yaitu ”Negara Demokrasi” pertama di Nusantara (1479-1850). Akan tetapi ”negara” itu runtuh akibat peperangan selama 17 tahun (1883-1850) malawan kolonial Belanda.

Sebelum ke Tanah Besemah, Syech Baharudin bermukim di Pulau Jawa dan hidup satu zaman dengan Wali Songo. Beliau sangat berpengaruh di di bahagian tengah dan selatan Pulau Jawa. Sedangkan Wali Songo pada masa sebelum berdirinya Kerajaan Bintoro Demak memiliki pengaruh di Pantai Utara Pulau Jawa. Tertulis dalam Kitab Tarikhul Auliya, bahwa untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa-yaitu Demak, maka ada 16 orang wali bermusyawarah di Masjid Demak termasuk pula Syech Baharudin dan beberapa wali dari Pulau Madura.

Dalam musyawarah itu Sunan Giri menginginkan agar dibentuk suatu negara Kerajaan dengan mengangkat Raden Fatah sebagai raja /sulthan dengan alasan negara baru tersebut tidak akan diserbu balatentara Majapahit, mengingat Raden Fatah adalah anak dari raja Majapahit. Konon dari 16 wali tersebut, 9 orang yang mendukung pendapat ini dan tujuh orang yang berbeda pemahaman dalam strategi dakwahnya termasuk Syech Baharudin.

Syech Baharudin (Puyang Awak) menginginkan suatu daulah seperti Madinah al Munawarah pada masa Rosulullah SAW. Namun demi menjaga persatuan ummat Islam yang kala itu jumlah belum banyak, beliau memutuskan untuk hijrah (melayur) ke Pulau Sumatera. Dari tanah Banten beliau menyeberang ke Tanjung Tua-ujung paling selatan Pulau Sumatera-. Kemudian menyusuri pesisir timur, yaitu daerah Ketapang-Menggala-Komering-Palembang-Enim dan Tiba di Tanah Pasemah lalu menetap disana tepatnya di Perdipe.

Disepanjang perjalanan, sebagai seorang mubaligh beliau selalu mendatangi tempat-tempat dimana masyarakat masih belum mengenal agamaTauhid dan akhlaqul qarimah, untuk mengajarkan nilai-nilai ajaran Islam dengan metode yang sangat sederhana yaitu memepergunakan kultur budaya masyarakat setempat sehingga dapat dimengerti dengan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat.

Dalam kehidupan bermasyarakat beberapa suku di perdalaman Sumatera Bagian Selatan, Puyang Awak adalah penyebar agama Islam yang sangat kharismatik. Nama beliau menjadi legenda dari generasi ke generasi terutama sikap beliau yang menunjukkan rasa peduli dan kasih sayang yang sangat tinggi terhadap semua makhluk ciptaan Allah.

Di tanah Pasemah pada waktu itu, Puyang Awak melihat pola hidup masyarakat sangat jauh dari kehidupan yang islami.Adanya praktek-praktek perbudakan dikalangan masyarakat.Perampokan dan penjarahan bagkan penculikan terhadap wanita dan anak-anak dari suku-suku lain disekitar Basemah [dalam bahasa basemah disebut ’nampu’] untuk dijadikan budak [dalam bahasa pasemah disebut ’pacal’], dianggap suatu kebanggaan. Bahkan ada satu keluarga besar yang memiliki ratusan ekor kerbau dan sapi serta puluhan orang pical, pada waktu ia mengadakan suatu pesta pernikahan anaknya, dengan pesta besar-besaran dengan menyembelih puluhan ekor sapi dan kerbau. Untuk menambah ’kebanggaan’ dari keluarga tersebut, maka diumumkan bahwa yang punya hajatan juga akan ’menyembelih seorang pacal’. Suatu bentuk kedzaliman yang melebihi perbuatan kaum jahiliyah Suku Quraisy di Kota Mekkah pada zaman nabi Muhammad SAW.

Pola hidup masyarakat Basemah yang liar, zalim, dan biadab seperti itu, bukan hanya diceritakan kembali secara turun-tumurun dari generasi ke generasi, melainkan tercatat pula pada tulisan-tulisan kuno aksara ka-ga-nga yang dijadikan benda-benda pusaka oleh tua-tua adat dari suku-suku sekitar Basemah, antara lain di daerah Enim. Intinya memperingatkan warga agar berhati-hati dan selalu waspada terhadap kedatangan para perampok dari Basemah yang sering menjarah harta benda serta menculik wanita dan anak-anak mereka. Bahkan selain itu Marco Polo [abad12], membuat catatan khusus tentang Basemah yang berbunyi..’Basma, where the people’s like a beast withuot law or religion....’ [basemah, penduduknya bagaikan binatang buas, tanpa aturan atau agama ]

Puyang Awak yang memperhatikan kehidupan suku Basemah yang liar, zalim tanpa hukum dan agama tersebut, justru berpendapat bahwa di tanah basemah inilah tempat yang tepat untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Kitab Suci Al-Qur’an yang diturunkan ALLAH SWT kepada nabi Muhammad SAW, untuk meng-agama-kan masyarakat yang belum beragama.

Akan tetapi perlu kita fahami bahwa metode yang dipergunakan oleh Puyang Awak dalam menyebarkan ajaran Islam yang mendasar tersebut, tidak mempergunakan bahasa Arab, melainkan beliau rumuskan kedalam bahasa Pasemah yang cukup dikenal sampai saat ini yaitu ’falsafah GANTI nga TUNGGUAN [Akhlakul Karimah].

C. Hubungan Darah Syaikh Baharudin dengan Sunan Gunung Jati

Mengutip dari buku ”Kisah Walisongo”, Karya Baidhowi Syamsuri, terbitan Apollo Surabaya didapatkan data sebagai berikut.

Adalah dua orang putra Prabu Siliwangi bernama Pangeran Walang Sungsang dan Putri Rara Santang belajar Dinul Islam kepada Syaikh Idlofo Mahdi atau Syaikh Dzathul Kahfi-seorang Ulama dari Baghdad yang menetap di Cirebon dan mendirikan Perguruan Islam. Karena kedua anak Raja Siliwangi tersebut tidak mendapat izin dari sang ayah, maka mereka melarikan diri ke Gunung Jati untuk belajar tentang Islam. Setelah cukup lama menuntut ilmu, keduanya diperintahkan sang syaikh untuk membuka hutan di selatan Gunung Jati yang kemudian dijadikan pedukuhan yang akhirnya menjadi ramai. Tempat ini kemudian dinamakan ”Tegal Alang-Alang” dan Pangeran Walang Sungsang diberi gelar ”Pangeran Cakra Buana” serta diangkat sebagai pimpinannya.

Syaikh Kahfi atau Datuk Kahfi memerintahkan kepada kedua muridnya tersebut untuk menunaikan haji ke Mekkah dilanjutkan dengan belajar Islam kepada Syaikh Bayanillah. Akhirnya Rara Santang menikah dengan seorang penguasa Mesir keturunan Bani Hasyim yang bernama Sultan Syarif Abdullah-dikenal juga dengan Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda. Rara Santang namanya diganti dengan Syarifah Mudaim. Dari pernikahan ini lahirlah dua orang putra, Syarif Hidayatullah dan adiknya Syarif Nurullah.

Setelah Sultan Syarif Abdullah wafat, kedudukannya digantikan oleh putra keduanya Syarif Nurullah, karena putra pertamanya Syarif Hidayatullah tidak suka naik takhta dan lebih memilih pulang ke tanah Jawa beserta ibunya untuk mendakwahkan Islam. Syarif Hidayatullah inilah yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati yang bersama-sama Senopati Demak Bintoro, yaitu Fatahillah yang melakukan penyerangan dan pengusiran Bangsa Portugis dari Sunda Kelapa.

Sedangkan Pangeran Cakra Buana setelah tinggal tiga tahun di Mesir kembali ke Jawa dan mendirikan negeri baru yaitu Caruban Larang. Prabu Siliwangi sebagai penguasa Jawa Barat telah merestui tampuk pemerintahan putranya ini dan memerinya gelar ”Sri Manggana”.

Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Gunung Jati telah sampai ke negeri Cina, dimana terdapat undang-undang yang melarang rakyatnya memeluk Islam. Disana beliau membuka praktek sistem pengobatan. Setiap yang datang berobat diajarinya berwudhu dan sholat. Orang cina kemudian mengenalnya sebagai sinshe dari jawa yang sakti dan berilmu tinggi. Akhirnya banyak diantara penduduknya memeluk Islam, termasuk seorang menteri Cina bernama Pai Lian Bang. Bahkan Kaisar Cina meminta Sunan Gunung Jati untuk menikahi putrinya yang bernama Ong Tien. Sunan Gunung Jati tidak mau mengecewakan sang kaisar, maka pernikahan tersebut dilangsungkan, kemudian ia pulang ke Jawa beserta Ong Tien.

Keberangkatannya ke Jawa dikawal dua Kapal Kerajaan yang dikepalai murid Sunan Gunung Jati, Pai Lian Bang. Kapal yang ditumpangi oleh Sunan Gung Jati berangat lebih dahulu dan singgah di Sriwijaya karena tersiar kabar bahwa adipati Sriwijaya yang berasal dari Majapahit bernama Ario Damar atau Ario Abdillah (nama Islamnya) telah meninggal dunia. Makam beliau dapat kita lihat sampai sekarang di Jalan Ariodillah Palembang. Sedangkan Ario Abdillah ini adalah anak tiri dari Fatahillah.

Karena kedua putra dari Ario Abdillah telah menetap di Jawa, maka Sunan Gunung Jati mengharapkan agar rakyat Sriwijaya berkenan mengangkat Pai Lian Bang sebagai adipati supaya tidak ada kekosongan kepemimpinan. Pai Lian Bang tidak menolak atas pengangkatannya, ia berkata : ”...seandainya bukan Sunan Gunung Jati sebagai guruku yang menyuruhku, maka aku tidak akan mau diangkat menjadi adipati...”.

Dengan bekal ilmu selama menjadi menteri di Cina, Pai Lian Bang berhasil membangun Sriwijaya. Pesantren dan madrasah benar-benar dikembangkannya dan beliau menjadi Guru Besar dlam Ilmu Ketatanegaraan. Murid-muridnya cukup banyak yang datang dari Pulau Jawa dan Sumatera termasuklah seorang cucu Sunan Gunung Jati dari Putrinya Panembahan Ratu yang dinikahi oleh Danuresia (Empu Eyang Dade Abang) yang bernama Syaikh Nurqodim al Baharudin (di sumsel dikenal dengan Puyang Awak). Pada akhirnya setelah Pai Lian Bang wafat, Sriwijaya diganti nama menjadi PALEMBANG yang diambil dari nama PAI LIAN BANG.

D. Latar Belakang Mudzakarah ’Ulama Serumpun Melayu Tempo Dulu

Setiap ulama yang shohih dapat dikenali langkah-langkahnya yang senatiasa menyusuaikan dengan panduan Alqur-an dan sunnah Rosul. Demikian pula analisis kami terhadap gerakan yang dibangun Syaikh Nurqodim al-Baharudin. Dengan segala keterbatasannya selaku manusia biasa dan dengan kesemangatannya selaku hamba Allah yang diberi amanah ke’ulamaan beliau telah berupaya membangun tata kehidupan masyarakat madani yang di contohkan Rosulullah Muhammad SAW. Inilah latar belakang pokok mudzakarah tersebut yaitu ingin mewujudkan tata kehidupan masyarakat yang diatur dengan Syariat Dinullah dengan panduan dari Rosulnya. Beliau tidak bermaksud membangun kekuasan dengan sistem kerajaan. Namun masyarakat madani yang tunduk pada kepemimpinan Allah dan Rosul dengan ’Ulama sebagai Ulil Amrinya.

Kemudian dengan melihat situasi dan kondisi perkembangan Islam di Eropa, Afrika, Asia, hingga wilayah Nusantara memberikan peluang yang besar kepada para ’ulama untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh dunia, sehingga memberi corak tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Terciptanya kestabilitasan dan perbaikan sistem kehidupan yang meliputi aspek sosial, budaya, ekonomi, pemerintahan dan keamanan, militer dan ilmu pengetahuan merupakan salah satu effect positif penyebaran melalui Dakwah dan Jihad.

Di rumpun melayu, khususnya setelah terjadi kekosongan kekuasaan di wilayah Sumatera Selatan akibat runtuhnya kekuasaan Sriwijaya dan Majapahit, dan terjadinya peralihan kekuasaan dari kerajaan Demak ke Pajang dan Mataram, sementara di wilayah Besemah (Pagaralam) masyarakat mengalami disintegrasi nilai-nilai kebudayaan yang mengakibatkan terciptanya kekacauan dalam sistem kehidupan sosial kemasyarakatan sehingga mereka kehilangan norma dan aturan yang mengatur tatanan kehidupan sosial. Hal ini yang menjadi faktor kedua dan mengilhami proses penyebaran Islam di wilayah Besemah dan Semendo oleh para ’ulama melalui proses mudzakarah.

Demikianlah dua latar pokok munculnya pertemuan ulama pada masa itu, yaitu ittiba kepada panduan Allah dan Rosul dengan gambaran dalilnya antara lain Surah al Anfal ayat 72, mengenai perintah iman, hijrah dan jihad. Selanjutnya kedua, yaitu kondisi dunia dan ummat yang menghendaki para ’ulama agar bersepakat mengangkat Islam.

E. Lokasi dan Hasil Keputusan Mudzakarah Ulama Tempo Dulu

Keberadaan dan kegiatan dakwah yang dilakukan beliau lama-kelamaan mulai tersebar. Bahwa di daerah Batang Hari Sembilan telah ada seorang aulia yang bernama Syaikh Nur Qodim Al Baharudin. Banyaklah penghulu agama / pemuka agama dari berbagai daerah berdatangan memenuhi ajakan Puyang Nur Qodim untuk bermukim di Talang Tumutan Tujuh akhirnya diresmikanlah oleh Puyang Ratu Agung Empuh Eyang Dade Abang menjadi ”dusun Paradipe” (para penghulu agama) tahun1650 M / 1072 H sekarang dinamakan dusun Tue. Dari perluasan daerah inilah disebut wilayah jagad Semende Panjang Basemah Libagh.

Kegiatan pembukaan wilayah oleh Syaikh al Baharudin antara lain :
  1. Pembukaan dusun dan Wilayah Pertanian Pagaruyung yang dipimpin oleh Puyang Ahmad Pendekar Raje Adat Pagaruyung dari Tanah Minang Kabau. 
  2. Pembaharuan dusun serta pemekaran Wilayah Peghapau yang dipimpin oleh Puyang Prikse Alam, dan Puyang Agung Nyawa beserta Puyang Tuan Kuase Raje Ulieh dari negeri Cina yang nama aslinya Ong Gun Tie
  3. Pembukaan Dusun dengan pemukiman di dusun Muara Tenang oleh Putra Sunan Bonang dari Jawa. Di Tanjung Iman oleh Puyang Same Wali, di Padang Ratu oleh Puyang Nakanadin, di Tanjung Raye oleh Puyang Regan Bumi dan Tuan Guru Sakti Gumai serta di Tanjung Laut oleh Puyang Tuan Kacik berpusat di Pardipe
  4. Pemekaran pembukaan wilayah Marga Semende, Muare Saung dan Marga Pulau Beringin (OKU).
  5. Pembukaan wilaya Marga Semende Ulu Nasal dan Marga Semende Pajar Bulan Segirin Bengkulu
  6. Pembukaan dusun dan wilayah pertanian di Lampung yakni Marga Semende Waitenang, Marga Semende Wai Seputih, Marga Semende Kasui, Marga Semende Peghung dan Marga Semende Ulak Rengas (Raje Mang Kute) Muchtar Alam..
Pendiri Adat Semende
  1. Ratu Agung Umpu Eyang Dade Abang (Bapak Nur Qodim – Puyang Awak). 
  2. Puyang Awak Syaikh Nurqodim Al Baharudin, bertempat tinggal di Perapau dan Muara Danau.
  3. Puyang Mas Penghulu Ulama Panglima Perang dari Gheci Mataram Jawa.
  4. Ahmad Pendekar Raje Adat Pagaruyung dari Minang Kabau (Sumbar).
  5. Puyang Sang Ngerti Penghulu Agama dari Tebing Rindu Ati Bangkahulu (Bengkulu).
  6. Puyang Perikse Alam dari Lubuk Dendan Mulak Basemah.
  7. Puyang Agung Nyawe.
  8. Puyang Lurus Sambung Ati dari gunung Puyung Banten Selatan Jabar.
  9. Tuan Kuase Raje Ulie Depati Penanggungan.
  10. Puyang Lebi Abdul Kahar dari Pulau Panggung.
  11. Tuan Mas Pangeran Bonang Muara Tenang.
  12. Regan Bumi Nakanadin samewali Tanjung Raya.
  13. Tuan Kecil dari Tanjung Laut.
Mengenai hasil keputusan yang di dapat, antara lain adalah munculnya rumusan kesepakatan ulama mengenai tahapan waktu kaderisasi ummat dan masa tegaknya daulah Islam di Rumpun Melayu. Rumusan ini menggunakan bahasa melayu setempat yang tercatat sampai saat ini dan mengandung pesan yang amat kuat, yaitu ”Tujuh Ganti Sembilan Gilir”. Terjemahnya adalah tujuh generasi dan sembilan masa pergiliran Kesultanan”. Satu generasi adalah sekitar 40 tahun sehingga makna tujuh ganti adalah 280 tahun masa pengkaderan atau persiapan ummat ummat Islam untuk bangkit dan mengusir penjajah dari Eropa. Terbukti sekitar 300 tahun kemudian dari tahun 1650 penjajah belanda angkat kaki dari negeri ini. Kemudian Kesultanan Mataram sebagai pusat komunikasi dari kesultanan lain di rumpun melayu diberi batas amanah sampai ke 9 kepemimpinan untuk selanjutnya menegakkan Syariat Islam secara total.

Data mengenai ulama yang hadir antara lain 40 ulama Malaka yang berangkat dari Johor, utusan Mataram Raden Seto dan Raden Khatib dan beberapa utusan lain dari Pagaruyung dan beberapa dari wilayah Rumou Melayu lainnya. Lokasi Mudzakarah Ulama ini adalah di Dusun Perdipe (Para Dipo; para penghulu agama).

Demikianlah sekelumit data yang diperoleh, setelah dilakukan eksplorasi data literatur dan lapangan. Namun demikian segala sumber keterangan apabila bukan bersumber selain Al-Qur'an akan ditemukan ikhtilaf (perbedaan) seperti yang dijelaskanNYa dalam Surah Annisa 82. Maka kami pun membuka segala kesempatan untuk melengkapi, mengkoreksi dan meluruskan data sejarah ini.

sumber (abstrak http://www.facebook.com/tunggu.tubang.semende)
Read More
07.18 | 0 komentar
Diposting oleh IKLILUDIN Aras di 07.18 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Label: Travel
Indonesia Indonesia

LAMREH; Antara Sejarah dan Peradaban

Written By IKLILUDIN Aras on Jumat, 22 Juni 2012 | 16.43


Dok. Taufan Mustafa
LAMREH-Sebuah Desa berkedudkan Kecamatan, Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Bersar, Provinsi Aceh, menurut Darma Ishak Geuchik Lamreh, saat ini jumlah Kepala Keluarag (KK) atau hunia berjumlah 81 (KK). Masyarakat Desa Lamreh berprofesi mayoritas sebagai buruh Pelabuhan Malahayati (Krueng Raya), nelayan dan bertani, hanya sebagaian kecil bekerja pada instansi pemerintahan. 

Akhir-akhir ini mencuat bahwa kawasan disebuah bukit  kecil Desa Lamreh akan dibuat lapangan golf oleh salah satu investor luar, namun, kebenarannya belum tahu siapa, informasi dari Muhajir, Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa), ia enggan menyebut pasti siapa investor asing tersebut. Namun , yang jelas Mapesa akan terus berjuang mempertahankan situs sejarah dikawasan Lamreh tersebut, “kata Muhajir  

Samsul Bahri warga setempat, ia menyatakan, sebelum Tsunami  ia di tugaskan oleh Balai Peninggalan Pelestarian Purbakala (BP3), Wilayah kerja Provinsi Aceh  dan Sumatera Utara, untuk menjaga dan merwat benteng Kuta Lubhok peninggalan sejarah Aceh di kawasan Lamreh, Aceh Besar tersebut, 

Pada akhirnya setelah gempa bumi dan Tsunami Desember 2004, ia tidak lagi bekerja untuk BP3, dan kemudian Samsul Bahri meninggalkan tetpat tersebut, beberapa waktu dan kemudian hari ia kembali kesan, tapi bukan untuk merawat benteng akan tetapi untuk berternak disana.  

BENTENG KUTA LUBHOK, tak jahu dari bibir pantai Lhok Lubhok,yang pernah dirawat Samsul Bahri 45 tahun tersebut, juga terdapat makam di belakang benteng peninggalan kesultanan Aceh yang diperkirakan peninggalan abat makam Kuta Lubhok itu semuanya dari  abad ke 13 s/d 14 M, di kawasan Lamreh Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. 

Nisan sejenis plang pleng yang tedapat di Kuta Lubhok, Desa Lamreh juga terdapat nisan yang sama di Gampong Pande (Makam Tuan di Kandang dan Makam Putroe Idjoe, serta Makam Raja-raja) berlokasi di Banda Aceh. di Desa Lamreh, tepatnya di belakang kuta Lubhok jenis nisan tersebut juga ada, terutama di Ujung Batee Kapal dan Lubhok. 

Sayangnya makam kuno di belakang Kuta Lubhok telah banyak mengalami gangguan dan kerusakan. seiring dengan waktu berjalan,  nisan-nisan tua yang bergelitakan, tentunaya tidak beraturan, penulisa dkk sempat mendokumentasikan benteng Kuta Lubhok serta nisan-nisan tua berukiran. 

Kunon cerita punya cerita benteng Kuta Lubhok,  merupakan benteng pertahanan keseultanan aceh, Menurut  catatan E. Edwards McKinnon, pada waktu itu, dilaporkan dalam majalah Archipel bahwa terdapat nisan Sultan Suleiman bin Abdullah bin Bashir yang wafat pada tahun 608 H, atau 1206 M, kawasan tersebut. 

Entah, sekarang makam kuno tersebut sudah didaftarkan sebagai Cagar Budaya oleh BP3 Aceh & Sumut apa belum, yang jelas nisan-nisan dan benteng tersebut merupakan wujud dari peningalan sejarah Aceh, yang perlu kita lestarikan.  []
Read More
16.43 | 0 komentar
Diposting oleh IKLILUDIN Aras di 16.43 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Label: Travel

Merekam Ekspedisi Krueng Sikuleh, Aceh

Written By IKLILUDIN Aras on Senin, 18 Juni 2012 | 20.13

Krueng Sikuleh: Surganya Pencinta Rafter

KRUENG Sikuleh memang bukan sungai biasa. Sungai yang bermuara ke Teunom, Aceh Jaya ini bukan sungai yang gampang diarungi, termasuk oleh para pencinta alam sekalipun. Jeramnya ganas, karakternya juga berbeda dengan sungai-sungai biasa yang sering kita temui.

Sungai yang masuk ke kawasan hutan Ulu Masen ini dipenuhi dengan bebatuan gunung yang besar. Dan licin tentunya. Di sekitar sungai masih terdapat banyak hewan buas seperti harimau dan beruang. Sungai ini juga menjadi tempat bagi kawanan gajah untuk mandi.

Belum lagi dengan keanekaragaman pesona hayati di sekelilingnya. Tak heran jika di kalangan pencinta alam, khususnya yang sering melakukan arung jeram, krueng Sekuleh yang terletak di Kabupaten Pidie ini dikategorikan sebagai sungai “perawan”.

Karena status “perawan”nya itulah tak sedikit para pecinta olahraga arung jeram yang melirik kawasan sungai ini. Mereka tertantang untuk memacu adrenalin kala melewati lekuk-lekuk sungai yang dipenuhi batu-batu besar dan air yang deras.

Salah satu komunitas arung jeram yang tak bisa menahan diri untuk menyusuri sungai ini adalah Wanadri, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaku Gunung dari Bandung, Jawa Barat. Ditemani anggota Mapala Leuser Unsyiah mereka pun mulai menguak eksotisme alam Sikuleh yang menjadi surga para rafter ini.
Gilang G Utama, salah satu anggota Wanadri kepada The Atjeh Post mengatakan bahwa mereka akan melakukan ekspedisi Seukuleh selama 14 hari. Awalnya, tim ini hanya merencanakan 11 hari saja.

“Karena kita harus menempuh perjalanan dalam hutan belantara selama tiga hari untuk sampai ke titik awal sungai Sekuleh,” kata Gilang, Minggu, 3 Juni 2012.

Setelah menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan di hutan, tim harus memulihkan diri (recovery) dahulu sebelum melakukan aktivitas rafting. Wajar saja, sebab olahraga rafting membutuhkan ketahanan fisik yang prima.

Untuk mencapai titik awal ekspedisi, tim juga melibatkan sekitar 13 orang penduduk setempat. Mereka akan membantu tim untuk menyuplai peralatan yang dibutuhkan tim ekspedisi.

Gilang merupakan ketua tim operasi ekspedisi arus deras Seukuleh, dalam ekspedisi ini tim dibagi menjadi dua bagian. Yaitu tim pengarungan dan tim penjelajah gunung hutan yang akan bertindak sebagai tim evakuasi jika sewaktu-waktu dibutuhkan oleh tim pengarungan.

Pengarungan pertama, kata Gilang, tim mentargetkan menempuh rute hingga 11 kilometer di kawasan Alue Duek. Pada hari beritukutnya mereka mentargetkan akan berada pada posisi kilometer 35 di bawah kaki gunung Meundalat dan Alue Sarah Panah.

Di Alue Sarah Panah tim sudah memasuki kawasan kilometer 55 dan di sana tim akan beristirahat selama satu hari untuk memulihkan energi.

Namun, menurut prediksi Gilang, pada hari ke sembilan mereka akan menemui sedikit kesulitas. Mengingat jeram di area tersebut sulit dilewati dan sangat berbahaya.

“Selain itu juga sangat beresiko, jeramnya berada di kawasan koordinat 950 57’ 17”  Bujur Timura dan 450 46’ 51” Lintang Utara dengan area jeram 750 meter,” kata Gilang.

Rute tersebut, menurutnya satu-satunya jalan Lining (melipir sungai) dan portaging (angkat perahu dan beban) dan salah satu kesulitas saat mengarungi sungai-sungai baru.

Dan sebelum memasuki kawasan Teunom, perjalanan mereka bisa saja terkendala oleh karakter sungai yangt berbeda-beda. Panjang sungai yang mereka susuri dalam ekspedisi Sekuleh ini lebih kurang sepanjang 98 kilometer. Titik awal keberangkatan dari Tangse, Pidie dan berakhir di desa Sarah Raya Aceh Jaya.

“Memang akan banyak kesulitan, tapi persiapan kami matang, dan semoga sesuai dengan rencana,” tutur Gilang. []
Read More
20.13 | 1 komentar
Diposting oleh IKLILUDIN Aras di 20.13 1 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Label: Travel
Indonesia Tangse, Indonesia

Eksotisme Kreung Teunom, Catatan Akhir Tahun Bersama Mapala Leuser Unsyiah

Written By IKLILUDIN Aras on Sabtu, 12 Mei 2012 | 17.32

ACEH-Kabupaten Aceh Jaya wilayah pesisir yang terletak di kawasan barat pantai Sumatera yang memiliki keindahan panorama alam, salah satu dari sekian banyak keindahannya, aliran Kreung Teunom. Kreung (sungai) Teunom yang merupakan salah satu sungai terdahsyat di Provinsi Aceh, panjang sungai berkisar 57 km, terhitung dari Cot Kuala, Kecamatan Mane Kabupaten Pidie.

Ada banyak sungai yang mengaliri Kreung Teunom, sederetan suangai mengalir itu Kreung Geumpang, Kreung Sekuleh, Kreung Beutung dan masih banyak lagi sungai-sungai kecil yang bermuara ke sungai Teunom, setiap harinya aliran air ribuan kubik mengalir di sungai tersebut. kesemua sungainya pun layak untuk di arungi oleh Rafter-rafter. 

Aceh menyebutkan sungai dengan nama kreung, sungai-sungai di Aceh pada umumnya dimanfaatkan masyarakat setempat mencari nafkah, berupa memanicing maupun memanfaatkan air sungai sebagai aliran untuk persawahan. Namun, tidak hanya sekedar itu saja, kita pasti tauh kalau sungai bisa di manfaatkan untuk olahraga arus deras yaitu Arung Jeram, itulah yang bisa di lakukan Mapala Leuser Unsyiah, beberapa waktu silam, itu menggelar ekspedisi Arung Jerang di Kreung Teunom tersebut.

Aliran Sungai kerung Teunom menyimpan banyak keindahan alam baik panorama serta flora dan fauna, Kreung teunom secara geografis merupakan kawasan hutan Ulu Masen yang tentu saja daerah yang masih sangat perawan denagn sejuta keindahan, di sepanjang sungai terdapat bebatuan serta belasan air terjun disisi kanan-kiri Kreung teunom yang bermuara ke Desa Sarah Raya Aceh jaya.
Pada akhir tahun 2011, saya dengan kawan-kawan dari Mapala Leuser Unsyiah melakukan Ekspedisi Arung jeram di Kreung Teunom,  kala itu kita beranggotakan 12 orang yang dilengkap tiga buah perahu jenis oval serta perlatan pendukung lainnya. Sempat terjadi ketegangan didalam benak ketika salah seorang warga setempat berucap "sebelumnya ada mayat hilang di aliran sungai Teunom tersebut,"ujarnya sambil menunjuk kearah sungai yang tampak berwarna kecoklatan, maklum semalam hujan deras,"kata dia lagi.

Namun, niat dan tekat dan persiapan sudah lebih awal dilakukan, pengarungan pun dilanjutkan,  tampak di kejahuan jeram dengan suara yang gemuruh, serat riam jeram bersambutan bak perit disiang hari, perasaan tegang dan cemas pun terus menghantui, ketia kapten perahu berteriak, maju-maju-maju-maju! para awak pun dengan semangat Hajar! Satu jeram terlewati, nafas pun lega ketiak perahu melewati jeram tersebut.

Tak jahu dari itu selang beberapa meter awak perahu pun kembali dihadang jeram yang tidak kala dahsyat dari sebelumnya,  pun terhenti sjenak, Cetus Lian Arkanullah, "ini jeramnya gila, bisa lenyap kalau kita lewetai", kira-kira seperti itu ucapanya sambil menunjuk ke arah bebatuan besar yang mengeluarkan busa butih seperti teluk di pinggiran laut. Atas pertimbangan pada saat itu tim tidak melewatinya.

Semapt terucap dari mulut Anas yang merupakan pelaku arung jeram di Indoneisa yang sekaligus pemilik perusahan perhu Boogie, seraya berkata sore hari pada saat tim ekspedisi berteduh (camp), kata dia, kenapa sungai ini tidak di pilih oleh Norman Edwin ketika ekspedisi ke Aceh tahun 90-an? Sebab sungai ini sangat dahsyat bila kita lihat dari peta topografi, sebab Kreung Tripa terlihat dalam peta tidak sedemikian rapat konturnya,"ujarnya kepada tim di kawasan jeram kura-kura.

Hari demi hari terus berjalan seiring dengan lajunya perahu, sepanjang aliran sungai selain derasnya jeram Kreung Teunom keindahan alam diantaranya tebing-tebing batuan karts yang menghimpit sisi sungai dengan ketinggian yang sangat bervariasi, puluhan meter hingga ratusan meter  tebing menjulang tak jarang air  menetes pelan-pelan di atas bebatuan cadas tersebut.

Sepanjang sungai terdapat beberapa air terjun  tumpa ke aliran Kreung Teunom, kembali laki terucap kata-kata dari Anas lelaki 45 tahun, "ini cocok sekali untuk wisata minat bakat, terutama para turis-turis asing pegila arung jeram",  selain itu pemandanganya tak kala menariknya dengan tempat-tempat di luar negeri, tapi kata dia, aksesnya yang terlalu susah bialng di bandingkan dengan di luar, coba kalau aksesnya bagus, pasti semua turis bakal datang ke Aceh untuk arung jeram, kata lelaki itu sambil mengayuhkan perahunya.

Seperti membawa turis M.Aritanoga yang sebelumnya pernah Ekspedisi Jelajah Kreung Teunom, dia mengatakan didepan lebih indah lagi karena kita akan menjumpai “Semen Tuhan”,"ujarnya sambil menunjuk kebeberapa sisi sungai.

Tak lama kemudian tim pun tibah di dinding berbentuk irigasi menyerupai semen dengan panjangnya di perkirakan 40-50 lebih meter membentang sisi-sisi sungai, bak isigasi aliri air diatasnya yang mengalir ke Kreung teunom, semua tim bilang “kita ini lagi dimana”? Lain lagi kata Candra Putra anggota tim dari Bandung tersebut “ini yang saya suka dari Aceh” selin jeramnya dahsyat sungainya sangat indah.

Hari-hari pun terus berjalan seperti sungai yang terus mengalir, pemandangan yang indah, jeram bersautan pun kicau burung menghiasi perjalan eskpedisi tersebut.

Sampailah pada satu sisi lainya matapun tertuju kepadanya air terjun, menurut pengakuan masyarakat Desa Sarah Raya, air terjun bertingkat itu dinamai Ceuraceu Embun, memang secara pengamatan dan juga pembutian, nama itu layak di sematkan kepada air terjun tersebut, tidak terlalu tinggi, namun daya tarik tersendiri yang lebih beratri.

Air yang jernih pun mengalir dari ketinggian itu, Amal Muhadis dari anggota tim memperkirakan ketinggian air terjun lebih dari 50 meter, masyarakat setempat sering mendatangi tempat tersebut dan tidak jarang turis Asing sepmat menijau lokasi tersebut,"kata warga setempat.

Perjalanan mengarungai sungai yang lebih kurang 7 hari tersebut,  sampailah di Desa Sarah Raya, dimana desa ini adalah akhir pengarungan tim ekspedisi. disepanjang hulu Desa tampak boat (perahu kecil) nelayan desa setempat, Muhammad salah seorang pawang sungai pada waktu itu tim jumpai dan berkata “Selama saya hidup 73 tahun, belum ada orang yang berhasil turun dengan selamat dari Krueng Teunom. Biasanya, yang sampai kemari  hanya tinggal tubuh yang mengapung kalau ada orang hanyut. Tapi kalian turun dari atas dengan ban (perahu) karet ini, betul-betul gila dan nekat,” jelas kakek ini menunjuk perahu yang digunakan untuk pengarungan tersebut.

Itulah sederet keindahan alam Aceh, termasuk deng potensi alam Aceh Jaya yang memiliki panjang garis pantai mencapai sekitar 160 kilometer dengan luas wilayah mencapai 32.627 Km2 dengan posisi sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Pidie, sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia.

Ikliludin Aras



Read More
17.32 | 3 komentar
Diposting oleh IKLILUDIN Aras di 17.32 3 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Label: Travel
Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Popular Post

  • Dempo Pilar Tertinggi di Sumatera Selatan
    Foto dari trijayafmpgl.net |Puncak Dempo dari dari jahu GUNUNG DEMPO terletak di Kotamadyah Pagar Alam, Palembang-Sumatera Selatan. Gu...
  • Eksotisme Kreung Teunom, Catatan Akhir Tahun Bersama Mapala Leuser Unsyiah
    ACEH - Kabupaten Aceh Jaya wilayah pesisir yang terletak di kawasan barat pantai Sumatera yang memiliki keindahan panorama alam, salah sat...
  • A-Tracker Melakukan Inventarisasi Rute Pendakian Peut Sagoe
    ACEH Tracker Community atau A-Tracker. beberapa waktu yang lalu bersama tim pos pengamatan Gunung Peut Sagoe dan  Direktorat Vulkano...
  • Potensi Gua Desa Paroy
    ACEH memiliki potensi alam yang melimpah, salah satunya kawasan karst pantai barat Provinsi Aceh, Desa Paroy, Kecamatan Lhong Aceh Besar....
  • Sisi Lain Dari Keindahan Panorama Bumi Aceh
    MENULISKAN keindahan panorama bumi Aceh seolah tak pernah habisnya, bukan hanya alam, gunung dan pantainya saja yang menimbulkan decak k...
  • Merekam Ekspedisi Krueng Sikuleh, Aceh
    Krueng Sikuleh: Surganya Pencinta Rafter KRUENG Sikuleh memang bukan sungai biasa. Sungai yang bermuara ke Teunom, Aceh...
  • Mengenang Sejarah Kampung Halaman Nun Jauh Disana
    AWAL KATANYA Tunggu Tubang: Tim Pelacakan Sejarah ini dibentuk oleh Panitia Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu pada bulan Agustus 2007 lalu...
  • LAMREH; Antara Sejarah dan Peradaban
    Dok. Taufan Mustafa LAMREH-Sebuah Desa berkedudkan Kecamatan, Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Bersar, Provinsi Aceh, menurut Darma Ishak ...
  • Kabut Awan Puncak Taman Nasional Gunung Leuser
    Foto-foto di bawah ini, foto pendakian Taman Nasional Gunung Leuser tahun 2009, dan catatan perjalanannya masih dalam lemari. Nanti ba...
  • Inilah OlahragaTerbaik
    TAUKAH Anda? Dan pernahkah Anda bertanya dalam hati mengapa bangsa Eropa tidak gemuk? Mereka tidak mendatangi kelas aerobik, melainkan b...

Rafting

Rafting
Expedition Rafting Kreung Teunom Aceh

Latest Reviews

News

Welcome Guys


Blogger news

Sample text

Jeram

  • ARAS News
  • Nanggroe Geographic
  • Jaringan

Download

INILAH AKU

Foto Saya
IKLILUDIN Aras
Banda Aceh_Aremantai Semende Darat Ulu, Aceh_Sumatera Selatan_Kalbar_Kaltim, Indonesia
Kesuksesan itu penting, didalamnya termaktub, sebuah akhir tujuan.
Lihat profil lengkapku

Blogger templates

Blog Archives

Rafting

Rafting
Expedition Rafting Kreung Teunom Aceh

Tracker D24

Tracker D24
Energi Positif & Solidaritas

Labels

  • Hang Out (2)
  • Petualangan dalam Lirik lagu (1)
  • Travel (4)
IKLILUDIN ARAS. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

 
Copyright © 2011. JEJAKER Adventure . All Rights Reserved.
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Design by Herdiansyah Hamzah. Published by Indonesia