Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Inilah OlahragaTerbaik

Written By IKLILUDIN Aras on Sabtu, 10 Mei 2014 | 15.27

TAUKAH Anda? Dan pernahkah Anda bertanya dalam hati mengapa bangsa Eropa tidak gemuk? Mereka tidak mendatangi kelas aerobik, melainkan banyak berjalan. Oh, ya mungkin kalau berkaca ke Eropa terlalu jauh tapi Anda lihat para petani dan nelayan, jarang sekali mereka ini berbadan gemuk, kenapa? itu dia, mereka aktif berjalan dan beraktivitas lebih dari 3 jam sehari.

Dalam buku Barry Sears, PH.D & Bill Laweren menjelaskan, Penelitian mutakhir membuktikan bahwa manfaat maksimum untuk bertambah umur terjadi setelah Anda menghabiskan lebih dari 2000 kalori setiap minggu dengan berolahraga. Diatas itu, tidak ada manfaat lebih lanjut. Jika Anda berjalan enam jam setiap minggu kurang dari satu jam sehari Anda akan membakar seluruh kalori yang Anda butuhkan sapai pada kondisi “mandi keringat” yang penting itu, dan dengan demikian mengurangi resiko mati sebelum waktunya. 

Nah, lanjut dari penjelasan Barry Sears, katanya, mudah sekali mencapai kadar pengeluaran total kalori itu dengan berjalan setiap hari. Berjalan menggunakan sedikit lebih dari 300 kalori per jam. 
 
Jadi dapat kita ambil sebuah pelajaran besar, bahwa aktivitas sehari-hari apakah itu naik turun tangga berjalan di pasar, di kampus untuk mahasiswa hal itu tidak sia-sia artinya pada prosesnya Anda berjalan ada aktivitas pembakaran kalori dalam tubuh Anda, untuk itu bisakanlah berjalan walaupun tidak lebih dari 30 menit sehari.

Oh, ya..  Anda duduk saja jantung Anda berdenyut 42 persen dan frekuensi denyut nadi maksimum, jelas dengan berjalan dan beraktivitas fisik lainnya intensitas denyut jantung Anda lebih dari itu.

INGAT! Jogging selama satu setengah jam seminggu tidak akan memberi hasil sebaik enam jam berjalan.

Nah, pertanyaan saya, berapa lama anda duduk di depan TV  dan laptop dalam seminggu, atau duduk di warung kopi? Kalau kita rata-ratakan 3 jam setiap hari berarti Anda menghabiskan waktu 21 jam seminggu. Mudah-mudah Anda dan saya tidak menjadi orang yang merugi.

Run go run ... Go go go..!

Best Regards
Ikliludin Aras
15.27 | 0 komentar

Mengenang Sejarah Kampung Halaman Nun Jauh Disana

Written By IKLILUDIN Aras on Selasa, 22 April 2014 | 07.18

AWAL KATANYA Tunggu Tubang: Tim Pelacakan Sejarah ini dibentuk oleh Panitia Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu pada bulan Agustus 2007 lalu. Tugasnya adalah menemukan fakta apakah benar pada abad ke 17 masehi telah berkumpul para ’ulama di Sumatera Selatan untuk bermudzakarah? Sejumlah pertanyaan penting yang harus dijawab antara lain : apa latar belakangnya mudzakarah tersebut; siapa saja tokohnya; dimana lokasinya; dan apa isi mudzakarah tersebut; hasil-hasilnya; serta pengaruhnya terhadap ummat Islam khususnya di Rumpun Melayu?

Untuk menjawab berbagai pertanyaan awal di atas, maka dalam tim ini dibentuk dua bidang tugas. Pertama, bertugas untuk menggali fakta dari literatur atau tulisan sejarah di buku, internet, serta asip-arsip kuno di perpustakan dan di masyarakat. Kedua, melalui wawancara langsung dengan pakar sejarah dari Perguruan Tinggi, Musium Purbakala, serta tokoh masyarakat yang merupakan keturunan dari pelaku sejarah. Juga dilakukan tinjauan langsung ke lokasi sejarah di daerah Perdipe. Tim ini bekerja sekitar dua bulan sejak dibentuk. Kemudian hasil penelitian ini telah disampaikan pada Musyawarah Pleno ke 1 DP3MU September 2007 lalu di Auditorium Yayasan AKUIS Pusat, Banyuasin, Sumatera Selatan.
 
Berdasarkan Hasil Pelacakan Sejarah yang telah dilakukan, maka ada beberapa bukti sejarah yang ditemukan :

Pada tahun 1650 masehi atau 1072 hijriyah telah bertemu sekitar 50 ’ulama di Perdipe, Sumatera Selatan.
 
Mereka berasal dari wilayah Rumpun Melayu yang meliputi Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaka, Fak-Fak- Papua, Ternate, dan Kepulauan Mindanau.
Hasil Mudzakarah ini memunculkan perluasan dakwah Islam yang berakibat terkikisnya 
faham anismisme dan budaya jahiliyah di masyarakat.

Munculnya kader-kader mujahid yang mengadakan perlawan terhadap penjajah Eropa.
Terjadinya perluasan wilayah Islam yang ditandai dengan munculnya Kesultanan yang baru yang masing-masing saling bekerjasama secara baik.
A. Siapakah Tokoh Sentral pada Mudzakarah ’Ulama Serumpun Melayu abad 17 M

Berdasarkan arsip kuno berupa kaghas (tulisan dengan huruf ulu diatas kulit kayu) yang ditemukan di Dusun Penghapau, Semende Darat, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan yang diterjemahkan pada tahun 1974 oleh Drs. Muhammad Nur (ahli purbakala Pusat Jakarta), ada beberapa catatan sejarah. Bahwa pada tahun 1072 Hijriyah atau 1650 Masehi telah ada seorang tokoh ’Ulama yang bernama Syech Nurqodim al-Baharudin yang bergelar Puyang Awak yang mendakwahkan Islam di daerah dataran Gunung Dempo Sumatera Selatan.

Menurut buku ”Jagad Basemah Libagh Semende Panjang”, Terbitan Pustaka Dzumirah, Karya Tgk. KH. Drs. Thoulun Abdurrauf, dinyatakan bahwa pada abad ke 14 – 17 Masehi, kaum Imperialis dan Kapitalis Eropa (Portugis, Inggris, dan Belanda) telah merompak di lautan dan merampok di daratan yang diistilahkan dalam bahasa melayu, yaitu mengayau. Mereka dengan taktik devide et impera berusaha memecah-belah penduduk di Rumpun Melayu yang berpusat di Pulau Jawa dan Semenanjung Malaka. Maka para waliullah di daerah tersebut dengan dipelopori oleh Syech Nurqodim al-Baharudin pada tahun 1650 M / 1072 H menggelar musyawarah yang berpusat di Perdipe (Sekarang masuk wilayah Kota Pagar Alam, Dataran Gunung Dempo, Sumatera Selatan). Tujuan musyawarah ini antara lain guna menyusun kekuatan bagi persiapan perang bulan sabit merah untuk menumpas ekspansi perang salib di Asia Tenggara.

Masih menurut beliau, bahwa kosa kata ”belanda” konon adalah sebutan bahasa melayu untuk orang netherlands. Kata belanda berasal dari dua suku kata ”belah” (memecah) dan ”nde” (keluarga), maknanya ”tukang memecah-belah keluarga”. Berbeda maknanya dengan kata ”semende” dari dua suku kata ”same” (satu) dan ”nde” (keluarga), maka maknanya ”satu keluarga” yaitu persaudaraan mukmin.

B. Siapakah Syech Nurqodim al-Baharudin

Syech Nurqodim al-Baharudin adalah cucu dari Sunan Gunung Jati dari Putri Sulungnya Panembahan Ratu Cirebon yang menikah dengan Ratu Agung Empu Eyang Dade Abang. Syech Nurqodim al-Baharudin kecil, beserta ketiga adiknya dididik dengan aqidah Islam dan akhlaqul karimah oleh orang tuanya di Istana Plang Kedidai yang terletak di tepi Tanjung Lematang.

Sewaktu remaja beliau digembleng oleh para ’ulama dari Aceh Darussalam yang sengaja didatangkan ayahnya. Ketika tiba masanya menikah beliau menyunting gadis dari Ma Siban (Muara Siban), sebuah dusun di kaki Gunung Dempo yang memiliki situs Lempeng Batu berukir Hulu Balang menunggang Kuda dengan membawa bendera Merah Putih (lihat buku ”5000 tahun umur merah putih” karya Mister Muhammad Yamin). Setelah bermufakat, beliau sekeluarga beserta adik-adiknya, keluarga dan sahabatnya membuka tanah di Talang Tumutan Tujuh, sebagai wilayah yang direncanakan beliau untuk menjadi Pusat Daerah Semende.

Menurut salah seorang keturunan beliau yang masih ada sekarang-TSH Kornawi Yacob Oemar-, dalam sebuah makalahnya dinyatakan bahwa, Syech Baharudin adalah pencipta adat Semende. Sebuah adat yang mentransformasi perilaku rumahtangga Nabi Muhammad SAW. Beliau juga pencetus falsafah ”jagad besemah libagh semende panjang”, yaitu ”Negara Demokrasi” pertama di Nusantara (1479-1850). Akan tetapi ”negara” itu runtuh akibat peperangan selama 17 tahun (1883-1850) malawan kolonial Belanda.

Sebelum ke Tanah Besemah, Syech Baharudin bermukim di Pulau Jawa dan hidup satu zaman dengan Wali Songo. Beliau sangat berpengaruh di di bahagian tengah dan selatan Pulau Jawa. Sedangkan Wali Songo pada masa sebelum berdirinya Kerajaan Bintoro Demak memiliki pengaruh di Pantai Utara Pulau Jawa. Tertulis dalam Kitab Tarikhul Auliya, bahwa untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa-yaitu Demak, maka ada 16 orang wali bermusyawarah di Masjid Demak termasuk pula Syech Baharudin dan beberapa wali dari Pulau Madura.

Dalam musyawarah itu Sunan Giri menginginkan agar dibentuk suatu negara Kerajaan dengan mengangkat Raden Fatah sebagai raja /sulthan dengan alasan negara baru tersebut tidak akan diserbu balatentara Majapahit, mengingat Raden Fatah adalah anak dari raja Majapahit. Konon dari 16 wali tersebut, 9 orang yang mendukung pendapat ini dan tujuh orang yang berbeda pemahaman dalam strategi dakwahnya termasuk Syech Baharudin.

Syech Baharudin (Puyang Awak) menginginkan suatu daulah seperti Madinah al Munawarah pada masa Rosulullah SAW. Namun demi menjaga persatuan ummat Islam yang kala itu jumlah belum banyak, beliau memutuskan untuk hijrah (melayur) ke Pulau Sumatera. Dari tanah Banten beliau menyeberang ke Tanjung Tua-ujung paling selatan Pulau Sumatera-. Kemudian menyusuri pesisir timur, yaitu daerah Ketapang-Menggala-Komering-Palembang-Enim dan Tiba di Tanah Pasemah lalu menetap disana tepatnya di Perdipe.

Disepanjang perjalanan, sebagai seorang mubaligh beliau selalu mendatangi tempat-tempat dimana masyarakat masih belum mengenal agamaTauhid dan akhlaqul qarimah, untuk mengajarkan nilai-nilai ajaran Islam dengan metode yang sangat sederhana yaitu memepergunakan kultur budaya masyarakat setempat sehingga dapat dimengerti dengan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat.

Dalam kehidupan bermasyarakat beberapa suku di perdalaman Sumatera Bagian Selatan, Puyang Awak adalah penyebar agama Islam yang sangat kharismatik. Nama beliau menjadi legenda dari generasi ke generasi terutama sikap beliau yang menunjukkan rasa peduli dan kasih sayang yang sangat tinggi terhadap semua makhluk ciptaan Allah.

Di tanah Pasemah pada waktu itu, Puyang Awak melihat pola hidup masyarakat sangat jauh dari kehidupan yang islami.Adanya praktek-praktek perbudakan dikalangan masyarakat.Perampokan dan penjarahan bagkan penculikan terhadap wanita dan anak-anak dari suku-suku lain disekitar Basemah [dalam bahasa basemah disebut ’nampu’] untuk dijadikan budak [dalam bahasa pasemah disebut ’pacal’], dianggap suatu kebanggaan. Bahkan ada satu keluarga besar yang memiliki ratusan ekor kerbau dan sapi serta puluhan orang pical, pada waktu ia mengadakan suatu pesta pernikahan anaknya, dengan pesta besar-besaran dengan menyembelih puluhan ekor sapi dan kerbau. Untuk menambah ’kebanggaan’ dari keluarga tersebut, maka diumumkan bahwa yang punya hajatan juga akan ’menyembelih seorang pacal’. Suatu bentuk kedzaliman yang melebihi perbuatan kaum jahiliyah Suku Quraisy di Kota Mekkah pada zaman nabi Muhammad SAW.

Pola hidup masyarakat Basemah yang liar, zalim, dan biadab seperti itu, bukan hanya diceritakan kembali secara turun-tumurun dari generasi ke generasi, melainkan tercatat pula pada tulisan-tulisan kuno aksara ka-ga-nga yang dijadikan benda-benda pusaka oleh tua-tua adat dari suku-suku sekitar Basemah, antara lain di daerah Enim. Intinya memperingatkan warga agar berhati-hati dan selalu waspada terhadap kedatangan para perampok dari Basemah yang sering menjarah harta benda serta menculik wanita dan anak-anak mereka. Bahkan selain itu Marco Polo [abad12], membuat catatan khusus tentang Basemah yang berbunyi..’Basma, where the people’s like a beast withuot law or religion....’ [basemah, penduduknya bagaikan binatang buas, tanpa aturan atau agama ]

Puyang Awak yang memperhatikan kehidupan suku Basemah yang liar, zalim tanpa hukum dan agama tersebut, justru berpendapat bahwa di tanah basemah inilah tempat yang tepat untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Kitab Suci Al-Qur’an yang diturunkan ALLAH SWT kepada nabi Muhammad SAW, untuk meng-agama-kan masyarakat yang belum beragama.

Akan tetapi perlu kita fahami bahwa metode yang dipergunakan oleh Puyang Awak dalam menyebarkan ajaran Islam yang mendasar tersebut, tidak mempergunakan bahasa Arab, melainkan beliau rumuskan kedalam bahasa Pasemah yang cukup dikenal sampai saat ini yaitu ’falsafah GANTI nga TUNGGUAN [Akhlakul Karimah].

C. Hubungan Darah Syaikh Baharudin dengan Sunan Gunung Jati

Mengutip dari buku ”Kisah Walisongo”, Karya Baidhowi Syamsuri, terbitan Apollo Surabaya didapatkan data sebagai berikut.

Adalah dua orang putra Prabu Siliwangi bernama Pangeran Walang Sungsang dan Putri Rara Santang belajar Dinul Islam kepada Syaikh Idlofo Mahdi atau Syaikh Dzathul Kahfi-seorang Ulama dari Baghdad yang menetap di Cirebon dan mendirikan Perguruan Islam. Karena kedua anak Raja Siliwangi tersebut tidak mendapat izin dari sang ayah, maka mereka melarikan diri ke Gunung Jati untuk belajar tentang Islam. Setelah cukup lama menuntut ilmu, keduanya diperintahkan sang syaikh untuk membuka hutan di selatan Gunung Jati yang kemudian dijadikan pedukuhan yang akhirnya menjadi ramai. Tempat ini kemudian dinamakan ”Tegal Alang-Alang” dan Pangeran Walang Sungsang diberi gelar ”Pangeran Cakra Buana” serta diangkat sebagai pimpinannya.

Syaikh Kahfi atau Datuk Kahfi memerintahkan kepada kedua muridnya tersebut untuk menunaikan haji ke Mekkah dilanjutkan dengan belajar Islam kepada Syaikh Bayanillah. Akhirnya Rara Santang menikah dengan seorang penguasa Mesir keturunan Bani Hasyim yang bernama Sultan Syarif Abdullah-dikenal juga dengan Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda. Rara Santang namanya diganti dengan Syarifah Mudaim. Dari pernikahan ini lahirlah dua orang putra, Syarif Hidayatullah dan adiknya Syarif Nurullah.

Setelah Sultan Syarif Abdullah wafat, kedudukannya digantikan oleh putra keduanya Syarif Nurullah, karena putra pertamanya Syarif Hidayatullah tidak suka naik takhta dan lebih memilih pulang ke tanah Jawa beserta ibunya untuk mendakwahkan Islam. Syarif Hidayatullah inilah yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati yang bersama-sama Senopati Demak Bintoro, yaitu Fatahillah yang melakukan penyerangan dan pengusiran Bangsa Portugis dari Sunda Kelapa.

Sedangkan Pangeran Cakra Buana setelah tinggal tiga tahun di Mesir kembali ke Jawa dan mendirikan negeri baru yaitu Caruban Larang. Prabu Siliwangi sebagai penguasa Jawa Barat telah merestui tampuk pemerintahan putranya ini dan memerinya gelar ”Sri Manggana”.

Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Gunung Jati telah sampai ke negeri Cina, dimana terdapat undang-undang yang melarang rakyatnya memeluk Islam. Disana beliau membuka praktek sistem pengobatan. Setiap yang datang berobat diajarinya berwudhu dan sholat. Orang cina kemudian mengenalnya sebagai sinshe dari jawa yang sakti dan berilmu tinggi. Akhirnya banyak diantara penduduknya memeluk Islam, termasuk seorang menteri Cina bernama Pai Lian Bang. Bahkan Kaisar Cina meminta Sunan Gunung Jati untuk menikahi putrinya yang bernama Ong Tien. Sunan Gunung Jati tidak mau mengecewakan sang kaisar, maka pernikahan tersebut dilangsungkan, kemudian ia pulang ke Jawa beserta Ong Tien.

Keberangkatannya ke Jawa dikawal dua Kapal Kerajaan yang dikepalai murid Sunan Gunung Jati, Pai Lian Bang. Kapal yang ditumpangi oleh Sunan Gung Jati berangat lebih dahulu dan singgah di Sriwijaya karena tersiar kabar bahwa adipati Sriwijaya yang berasal dari Majapahit bernama Ario Damar atau Ario Abdillah (nama Islamnya) telah meninggal dunia. Makam beliau dapat kita lihat sampai sekarang di Jalan Ariodillah Palembang. Sedangkan Ario Abdillah ini adalah anak tiri dari Fatahillah.

Karena kedua putra dari Ario Abdillah telah menetap di Jawa, maka Sunan Gunung Jati mengharapkan agar rakyat Sriwijaya berkenan mengangkat Pai Lian Bang sebagai adipati supaya tidak ada kekosongan kepemimpinan. Pai Lian Bang tidak menolak atas pengangkatannya, ia berkata : ”...seandainya bukan Sunan Gunung Jati sebagai guruku yang menyuruhku, maka aku tidak akan mau diangkat menjadi adipati...”.

Dengan bekal ilmu selama menjadi menteri di Cina, Pai Lian Bang berhasil membangun Sriwijaya. Pesantren dan madrasah benar-benar dikembangkannya dan beliau menjadi Guru Besar dlam Ilmu Ketatanegaraan. Murid-muridnya cukup banyak yang datang dari Pulau Jawa dan Sumatera termasuklah seorang cucu Sunan Gunung Jati dari Putrinya Panembahan Ratu yang dinikahi oleh Danuresia (Empu Eyang Dade Abang) yang bernama Syaikh Nurqodim al Baharudin (di sumsel dikenal dengan Puyang Awak). Pada akhirnya setelah Pai Lian Bang wafat, Sriwijaya diganti nama menjadi PALEMBANG yang diambil dari nama PAI LIAN BANG.

D. Latar Belakang Mudzakarah ’Ulama Serumpun Melayu Tempo Dulu

Setiap ulama yang shohih dapat dikenali langkah-langkahnya yang senatiasa menyusuaikan dengan panduan Alqur-an dan sunnah Rosul. Demikian pula analisis kami terhadap gerakan yang dibangun Syaikh Nurqodim al-Baharudin. Dengan segala keterbatasannya selaku manusia biasa dan dengan kesemangatannya selaku hamba Allah yang diberi amanah ke’ulamaan beliau telah berupaya membangun tata kehidupan masyarakat madani yang di contohkan Rosulullah Muhammad SAW. Inilah latar belakang pokok mudzakarah tersebut yaitu ingin mewujudkan tata kehidupan masyarakat yang diatur dengan Syariat Dinullah dengan panduan dari Rosulnya. Beliau tidak bermaksud membangun kekuasan dengan sistem kerajaan. Namun masyarakat madani yang tunduk pada kepemimpinan Allah dan Rosul dengan ’Ulama sebagai Ulil Amrinya.

Kemudian dengan melihat situasi dan kondisi perkembangan Islam di Eropa, Afrika, Asia, hingga wilayah Nusantara memberikan peluang yang besar kepada para ’ulama untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh dunia, sehingga memberi corak tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Terciptanya kestabilitasan dan perbaikan sistem kehidupan yang meliputi aspek sosial, budaya, ekonomi, pemerintahan dan keamanan, militer dan ilmu pengetahuan merupakan salah satu effect positif penyebaran melalui Dakwah dan Jihad.

Di rumpun melayu, khususnya setelah terjadi kekosongan kekuasaan di wilayah Sumatera Selatan akibat runtuhnya kekuasaan Sriwijaya dan Majapahit, dan terjadinya peralihan kekuasaan dari kerajaan Demak ke Pajang dan Mataram, sementara di wilayah Besemah (Pagaralam) masyarakat mengalami disintegrasi nilai-nilai kebudayaan yang mengakibatkan terciptanya kekacauan dalam sistem kehidupan sosial kemasyarakatan sehingga mereka kehilangan norma dan aturan yang mengatur tatanan kehidupan sosial. Hal ini yang menjadi faktor kedua dan mengilhami proses penyebaran Islam di wilayah Besemah dan Semendo oleh para ’ulama melalui proses mudzakarah.

Demikianlah dua latar pokok munculnya pertemuan ulama pada masa itu, yaitu ittiba kepada panduan Allah dan Rosul dengan gambaran dalilnya antara lain Surah al Anfal ayat 72, mengenai perintah iman, hijrah dan jihad. Selanjutnya kedua, yaitu kondisi dunia dan ummat yang menghendaki para ’ulama agar bersepakat mengangkat Islam.

E. Lokasi dan Hasil Keputusan Mudzakarah Ulama Tempo Dulu

Keberadaan dan kegiatan dakwah yang dilakukan beliau lama-kelamaan mulai tersebar. Bahwa di daerah Batang Hari Sembilan telah ada seorang aulia yang bernama Syaikh Nur Qodim Al Baharudin. Banyaklah penghulu agama / pemuka agama dari berbagai daerah berdatangan memenuhi ajakan Puyang Nur Qodim untuk bermukim di Talang Tumutan Tujuh akhirnya diresmikanlah oleh Puyang Ratu Agung Empuh Eyang Dade Abang menjadi ”dusun Paradipe” (para penghulu agama) tahun1650 M / 1072 H sekarang dinamakan dusun Tue. Dari perluasan daerah inilah disebut wilayah jagad Semende Panjang Basemah Libagh.

Kegiatan pembukaan wilayah oleh Syaikh al Baharudin antara lain :
  1. Pembukaan dusun dan Wilayah Pertanian Pagaruyung yang dipimpin oleh Puyang Ahmad Pendekar Raje Adat Pagaruyung dari Tanah Minang Kabau. 
  2. Pembaharuan dusun serta pemekaran Wilayah Peghapau yang dipimpin oleh Puyang Prikse Alam, dan Puyang Agung Nyawa beserta Puyang Tuan Kuase Raje Ulieh dari negeri Cina yang nama aslinya Ong Gun Tie
  3. Pembukaan Dusun dengan pemukiman di dusun Muara Tenang oleh Putra Sunan Bonang dari Jawa. Di Tanjung Iman oleh Puyang Same Wali, di Padang Ratu oleh Puyang Nakanadin, di Tanjung Raye oleh Puyang Regan Bumi dan Tuan Guru Sakti Gumai serta di Tanjung Laut oleh Puyang Tuan Kacik berpusat di Pardipe
  4. Pemekaran pembukaan wilayah Marga Semende, Muare Saung dan Marga Pulau Beringin (OKU).
  5. Pembukaan wilaya Marga Semende Ulu Nasal dan Marga Semende Pajar Bulan Segirin Bengkulu
  6. Pembukaan dusun dan wilayah pertanian di Lampung yakni Marga Semende Waitenang, Marga Semende Wai Seputih, Marga Semende Kasui, Marga Semende Peghung dan Marga Semende Ulak Rengas (Raje Mang Kute) Muchtar Alam..
Pendiri Adat Semende
  1. Ratu Agung Umpu Eyang Dade Abang (Bapak Nur Qodim – Puyang Awak). 
  2. Puyang Awak Syaikh Nurqodim Al Baharudin, bertempat tinggal di Perapau dan Muara Danau.
  3. Puyang Mas Penghulu Ulama Panglima Perang dari Gheci Mataram Jawa.
  4. Ahmad Pendekar Raje Adat Pagaruyung dari Minang Kabau (Sumbar).
  5. Puyang Sang Ngerti Penghulu Agama dari Tebing Rindu Ati Bangkahulu (Bengkulu).
  6. Puyang Perikse Alam dari Lubuk Dendan Mulak Basemah.
  7. Puyang Agung Nyawe.
  8. Puyang Lurus Sambung Ati dari gunung Puyung Banten Selatan Jabar.
  9. Tuan Kuase Raje Ulie Depati Penanggungan.
  10. Puyang Lebi Abdul Kahar dari Pulau Panggung.
  11. Tuan Mas Pangeran Bonang Muara Tenang.
  12. Regan Bumi Nakanadin samewali Tanjung Raya.
  13. Tuan Kecil dari Tanjung Laut.
Mengenai hasil keputusan yang di dapat, antara lain adalah munculnya rumusan kesepakatan ulama mengenai tahapan waktu kaderisasi ummat dan masa tegaknya daulah Islam di Rumpun Melayu. Rumusan ini menggunakan bahasa melayu setempat yang tercatat sampai saat ini dan mengandung pesan yang amat kuat, yaitu ”Tujuh Ganti Sembilan Gilir”. Terjemahnya adalah tujuh generasi dan sembilan masa pergiliran Kesultanan”. Satu generasi adalah sekitar 40 tahun sehingga makna tujuh ganti adalah 280 tahun masa pengkaderan atau persiapan ummat ummat Islam untuk bangkit dan mengusir penjajah dari Eropa. Terbukti sekitar 300 tahun kemudian dari tahun 1650 penjajah belanda angkat kaki dari negeri ini. Kemudian Kesultanan Mataram sebagai pusat komunikasi dari kesultanan lain di rumpun melayu diberi batas amanah sampai ke 9 kepemimpinan untuk selanjutnya menegakkan Syariat Islam secara total.

Data mengenai ulama yang hadir antara lain 40 ulama Malaka yang berangkat dari Johor, utusan Mataram Raden Seto dan Raden Khatib dan beberapa utusan lain dari Pagaruyung dan beberapa dari wilayah Rumou Melayu lainnya. Lokasi Mudzakarah Ulama ini adalah di Dusun Perdipe (Para Dipo; para penghulu agama).

Demikianlah sekelumit data yang diperoleh, setelah dilakukan eksplorasi data literatur dan lapangan. Namun demikian segala sumber keterangan apabila bukan bersumber selain Al-Qur'an akan ditemukan ikhtilaf (perbedaan) seperti yang dijelaskanNYa dalam Surah Annisa 82. Maka kami pun membuka segala kesempatan untuk melengkapi, mengkoreksi dan meluruskan data sejarah ini.

sumber (abstrak http://www.facebook.com/tunggu.tubang.semende)
07.18 | 0 komentar

Dempo Pilar Tertinggi di Sumatera Selatan

Written By IKLILUDIN Aras on Minggu, 20 April 2014 | 16.55

Foto dari trijayafmpgl.net |Puncak Dempo dari dari jahu
GUNUNG DEMPO terletak di Kotamadyah Pagar Alam, Palembang-Sumatera Selatan. Gunung tertinggi di  Sumatera Selatan ini masih merupakan bagian jajaran bukit barisan. Bagian terdekat dari Gunung Dempo, Bukit Dinding [2026 mdpl), Bukit Payung (1570 mdpl) dan Gunung Berapi/Merapi. Menurut berbagai informasi, penduduk desa setempat juga sering mendaki ke puncak-puncak tersebut. Pendakian penduduk setempat tak lain hanya untuk mencari kayu bakar. Tidak hanya penduduk setempat, Gunung Dempo sendiri juga bagian dari surga para penggiat alam bebas dan juga pendaki gunung luar dari sumatera, seperti pulau jawa, bahkan anak-anak Mapala Leuser dari Aceh sudah beberapa kali mendaki ke sana, penulis sendiri berencana mendaki kesana setelah liburan kerja nanti,"oya lagi kumpul-kumpul uang juga ne..

Mau kesana yuk kita liat aksesnya.  
Foto m.rmolsule.com | Puncak Merapi, Danau Warna Warni dan Kayu Panjang umur
Buat Anda dari luar pulau Sumatera, khususnya dari Kalimantan dan bagian Timur Indonesia. Tentunya perencanaan kita harus matang, walaupun tidak matang-matang kalilah, setidaknya mantaplah alah pendaki gitu. Dari kota Palembang, buat yang naik pesawat lho, kalian bisa menuju terminal di wilayah kota palembang, ada banyak terminal disana, kawasan Jembatan Ampera. Pendaki dapat menggunakan mini bus atau bus menuju Pagar Alam, waktu yang dibutuhkan sekitar 7 jam perjalanan. Selama di perjalanan kita akan merasakan tanjakan-janjakan dan melihat jurang-jurang yang menganga lho...

Kota Pagar Alam itu dingin dan sejuk tentunya kita akan merasakan keindahannya, Pagar Alam itu Bogornya Sum-Sel, sebab kita akan dimanjakan dengan hamparan kebun teh kepunyaan PT.PN III. Pagar Alam di huni oleh masyarakat mutikultur. Perjalanan dari Kota Pagar Alam menuju PT. PN III lebih kurang tiga jam, atau sejarak lebih kurang 15km, ini tergantung juga dengan kondisi perjlanan juga lho. Namun, kabar baik buat kita yang mau kesana, soalnya sudah ada

Bandara yang langsung ke Kota Pagar Alam, Bandaranya beberapa bulan lalu baru di resmikan SBY. Bandar Udara Pagar Alam, Lahat, Sumatera Selatan. Kondisi fasilitas saat ini sudah 100 persen. Bandar Udara Pagar Alam, Lahat, Sumatera Selatan, nantinya direncanakan akan dibuka penerbangan perintis dengan rute Bengkulu-Pagar Alam.  

* Pendakian
Pendakian dimulai dari PT. PN III menuju Kampung Empat. Waktu yang dibutuhkan sekitar 1 jam perjalanan, dan anda selama diperjalanan akan dimanjakan oleh  indahnya hamparan perkebunan teh yang menghijau dan sekali-kali anda akan melihat karyawan sedang memetik teh.

Dari Kampung Empat menuju Pintu Rimba, kalau orang Palembang bilang rimba itu rimbo, berbeda dengan orang Semendo lagi. Kampung Empat ini berada di ketinggian 1200 mdpl. Kawasan ini merupakan tempat tinggalnya karyawan kebun teh yang mayoritas berasal dari pulau Jawa. Biasanya para pendaki bisa cek lagi packing yang mereka bawa, khususnya untuk pengisian air selama pendakian. Dari Kampung Empat pendaki langsung memasuki pintu rimba/rimbo, sekitar 30 menit.

Pintu rimba merupakan pos pertama pendakian dengan topografi area yang vegetasi antara perkebunan teh dengan hutan raya Gunung Dempo. Lintasan pada pos licin dan mulai menanjak. Guna mengurangi resiko terjatuh, biasanya para pendaki umumnya berpegangan dengan akar-akar yang ada pada lintasan jalur pendakian. Lumayan watunya ke pos tersebut sekitar satu jam.

Pada pos pertama ini, kita dapat menikmati air alam, soalnya pada pos ini terdapat sumber air. untuk menuju pos dua dari pos satu sekitar dua jam pendakian dengan rute tetap melintasi beberapa sumber air. Kondisi jalur sangat licin dan akan lebih bahaya lagi seketika waktu turun hujan. "gak hujan aja licin apalagi hujan" heheh. Dilintasan ini kita akan di kenalkan dengan sebutan "Dinding Lemari", lemari alam bukan lemari uang, kalau lemari uang bisa di pindahkan sama pendaki.

Pos kedua ini berada pada ketinggian  2600 mdpl, pada sisi bagian kanan jalur terdapat sumber air. "naik dempo banyak air lho". Pos kedua ini, para pendaki akan menuju makam puyang (makam nenek moyang) istilah bahasa setempat. Kawasan ini bermedan menanjak dan hutan lebat, waktu pendakian umumnya berkisar 2,5 jam, sampai tiba di Makam Puyang Herlan. "nanti kalau kita kesana kita tulis sejarah, kenapa ada makam punya disana, atau anda yang mendaki kesana nanti tanya deh kenapa ada Makam Puyang.

Makam Puyang Herlan di ketinggian 2950 mdpl. Artinya tidak lama lagi para pendaki akan menuju "puncak bahagia", hahaah istilah aku saja tu, maksudnya puncak Dempo. Pada lintasan jalur ini kita akan menemui "kayu panjang umur". Waktu tempuh menuju puncak Dempo sekitar 30 menit atau bisa lebih dari itu, tergantung si pendakinya lho.

Puncak Dempo, sebuah dataran kecil di ketinggian 3173 mdpl (meter di atas permukaan laut). Setelah di puncak, para pendaki bisa langsung ke Lembah Parapuyang, lembah ini menggambarkan antar puncak Gunung Berapi dan Gunung Dempo. Disinilah Anda akan menikmati yang namanya indahnya sunset dan juga sunrise yang menggoda anda. kawasan ini cukup luas dan tentunya terbuka, tapi gak bisa main bola, hehehe. 

Foto ruliarullah.wordpress.com| View Puncak Dempo Tampak Dari Kebun Teh
Dikawasan ini, para pendaki bisa beristirahat sejenak sekalian ngecamp, soalnya dari tempat ini untuk menuju puncak Merapi hanya memakan waktu tempuh 2 jam perjalanan. Saran buat pendaki sebaiknya istiahat dan bisa mengumpulkan kekuatan buat ke esokan harinya. Puncak Merapi juga tak kala indahnya dengan puncak-puncak di pegunungan Dempo, karena anda akan di manjakan dengan surganya danau di atas puncak. konon di puncak ini kita bisa menikamti perubahan warna danau setiap saat,"oya nanti kita sama-sama kesana ya, yang terpenting infonya bro,

#Baca Buku "Mari Mendaki Gunung dari Leuser Sampai Cartennz" karangan Hatiba Abdul Kadir. di halaman 20, dengan judul Gunung Dempo | 3173 mdpl Nirwan di Lembah Parapuyang
16.55 | 2 komentar

A-Tracker Melakukan Inventarisasi Rute Pendakian Peut Sagoe

Written By IKLILUDIN Aras on Sabtu, 06 Oktober 2012 | 17.32

ACEH Tracker Community atau A-Tracker. beberapa waktu yang lalu bersama tim pos pengamatan Gunung Peut Sagoe dan  Direktorat Vulkanologi, A-Tracker mendaki gunung di Geumpang, Pidie.

Bersama tim pos pengamatan yang merupakan bagian dari Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, pendakian ke gunung itu untuk mengecek beberapa alat dan komponen seismometer. Mereka juga mengganti bateray seismograph di kawasan puncak gunung api itu.

Seperti yang di lansir media lokal The Atjeh Post, Ketua Umum ATC Said Murthaza Almahdaly kepada mengatakan, kegiatan selama lima hari tersebut dilakukan secara periodek terhadap gunung berapi di Indonesia.

Saat pendakian, kata dia, Aceh Tracker Community juga melakukan inventarisasi rute atau jalur pendakian ke puncak gunung serta mengumpulkan data-data tentang Peut Sagoe.

"Tim masing-masing berjumlah sembilan orang dari Direktorat Vulkanologi dan tiga orang dari Aceh Tracker Community," ujarnya.

Meskipun baru terbentuk, kata Said, Aceh Tracker Community berkomitmen terus menginventaris jalur-jalur pendakian normal pada setiap gunung api yang memiliki potensi. "Baik kepentingan wisata, penelitian, serta kawasan konservasi,“ ujarnya.

Pendakian dimulai dari kawasan transmigrasi SP V Kecamatan Geumpang. Lalu rute dirintis melalui punggungan selatan gunung, tepatnya dari hulu sungai Simpang Ie Ceuko, Geumpang.

Di sepanjang pendakian, kata Said, ditemukan jalur-jalur rintisan pendakian sebelumnya. "Namun apakah arahnya ke puncak atau bukan tidak bisa dipastikan," ujarnya.

Selain itu, di sepanjang rute banyak ditemukan jalur binatang liar yang masih aktif seperti Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae), rusa, beruang madu. Tak kalah menariknya, kata Said, juga ditemukan tumbuhan langka Raflesia.

“Kegiatan ini juga dipantau langsung dari pos pengamatan Gunung Api Peut Sagoe di Kecamatan Mane sekitar 21 kilometer dari puncak dengan radio komunikasi," ujarnya.

Meski pendakian mengambil rute punggungan selatan, jalur kembali dari puncak menggunakan jalur barat dan kembali ke titik awal pendakian di SP V.

Gunung Peut Sagoe dipantau oleh pos pengamatan selama 24 jam. "Alat pencatat aktivitas Peut Sagoe sudah ada sejak 1998 hingga sekarang," ujarnya. | Pernah di muat di atjehpost.com 

By: IKLILUDIN ARAS
17.32 | 0 komentar

Kekuatan Perempuan Untuk Lingkungan

PEREMPUAN DAN ISU LINGKUNGAN

10 November 2010 pukul 11:45

Gambar IlustrasiGambar Ilustrasi

Mungkin kita tidak sadar kalau perempuanlah yang telah melahirkan dan membesarkan kita di dunia ini. Kalau pun kita sadar dimana kesadaran kita? Beberapa waktu yang lalu aku tidak sengaja melihat tumpukan buku-buku di sekitar ruangan kamar kost. Jadi ditumpukan buku-buku itu ada sebuah buku yang tak sengaja aku buka dan aku pun lupa judul dan halamanya, tapi tak apalah yang penting isi dari buku itu.

Buku itu menjelaskan sebuah tindakan nyata yang di lakukan para perempuan terhadap "Isu Lingkungan" sebab buku itu menjelaskan bahwa pada tahun 1974, tujuh puluh empat perempuan di kota Rini, di dareah bagian Utara India, ke tujuh puluh empat perempuan itu bersepakat untuk menghentikan penebangan hutan.

Buku itu menjelaskan ke tujuh puluh empat perempuan itu memeluk erat-erat pohon-pohon yang akan di tebang oleh mesin-mesin pemotong kayu yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. Para perempuan ini membuktikan mereka berhasil menyelamatkan 12000 km hutan.

Namun, apa yang menarik dari kutipan buku itu? aku mencoba menghubungkan tahunnya dengan tahun deklarasi/forum Gladian IV Pencita Alam Indonesia, dalam forum itu Pencita Alam Indonesia melahirkan kode etik. Kemudian kode etik itu sering didengungkan oleh para pencinta alam di Nusantara. Kode etik pencita alam Indonesia yang disahkan dalam forum Gladian IV di Ujung Pandang pada tahun 1974.

Kode etik pencita alam Indonesia itu melahirkan butiran-butiaran salah satu butiran itu adalah “Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai kebutuhannya”. Seandainya pencita alam Indonesia bertindak nyata sesuai dengan kode etiknya, aku pikir Indonesia akan selalu hijau dan peranan perempuan di kepencita alam mungkin akan sebanding dengan ke tujuh puluh perempuan pada tahun 1974 yang silam.

Hari ini saya atas nama pribadi menyatakan bahwa "perempuanlah" yang sanggup menyelamatkan lingkungan di muka bumi ini dan lebih khusus Indonesia.

Mudah-mudahan anda sependapat dengan apa yang aku sampaikan buat negeri ini agar selalu hijau dengan pohon bukan dengan sawit.

Rafting

Rafting
Expedition Rafting Kreung Teunom Aceh

Social Icons

PINTU RIMBA

Follow by Email

Social Icons

Arsip

Featured Posts

Rafting

Rafting
Expedition Rafting Kreung Teunom Aceh

Latest Reviews

News

Welcome Guys


Blogger news

Sample text

Download

INILAH AKU

Foto Saya
Banda Aceh_Aremantai Semende Darat Ulu, Aceh_Sumatera Selatan_Kalbar_Kaltim, Indonesia
Kesuksesan itu penting, didalamnya termaktub, sebuah akhir tujuan.

Blogger templates

Blog Archives

Rafting

Rafting
Expedition Rafting Kreung Teunom Aceh

Share It

Tracker D24

Tracker D24
Energi Positif & Solidaritas
IKLILUDIN ARAS. Diberdayakan oleh Blogger.

Followers